Home > Memberi Nilai Tambah Masakan Tradisional
 
 
 

Memberi Nilai Tambah Masakan Tradisional

 

Selamat Datang di www.pusatgudegkaleng.info Pusat Gudeg Khas Jogja Bercita rasa tinggi, praktis,higienis dan tahan lama. Harga Nego untuk pembelian paket besar

 

Indonesia terkenal dengan negara yang mempunyai beragam masakan tradisional, Namun seiring perkembangan jaman masakan tradisional mulai banyak yang ditinggalkan. Oleh karena itu, perlu memberi nilai tambah pada masakan tradisional agar bisa memenangkan  persaingan global.

Meski banyak perusahaan pengalengan di Indonesia tetapi masih sedikit yang mengemas masakan tradisional di dalam kaleng. Peluang inilah yang dilihat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat mulai meneliti pengemasan kaleng untuk masakan tradisional.

Sejak era 1990-an, LIPI telah mulai memproduksi makanan tradisional yang dikemas di dalam kaleng. “Waktu itu, kami tertarik mengemas makanan tradisional dalam kaleng karena memiliki nilai tambah,” tutur Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Awalnya, LIPI memproduksi tempe kari dalam kaleng. Melihat respon yang baik, mereka memproduksi makanan tradisional lain, seperti gudeg, sayur lombok ijo, mangut lele, tahu kari, rendang, gulai, rawon, telur puyuh, hingga koktail.

Namun, seiring berjalannya waktu, hanya beberapa produk saja yang memiliki nilai jual yang baik. Kari tempe, gudeg, mangut lele, dan sayur lombok ijo merupakan olahan makanan yang paling banyak dicari.

Dalam sebulan, melalui Koperasi LIPI Gading (KOLIGA) LIPI mampu menjual 50 hingga 100 kaleng olahan makanan itu. Selain menjual langsung, Koliga juga memasarkan masakan tradisional kalegan itu melalui website LIPI dan Koliga. Mereka juga aktif mengikuti pameran dan melayani pemesanan untuk suvenir dan oleh-oleh. Koliga juga mendistribusikan olahan tersebut ke dua supermarket besar di Kota Yogyakarta.

Angwar menilai, gudeg kaleng punya potensi bisnis yang besar. Pasalnya, penggemar masakan ini cukup banyak, baik dari dalam maupun luar negeri. “Belanda bisa menjadi pasar yang potensial untuk ekspor gudeg kaleng. Selain itu, pemasaran juga bisa dilakukan bersama jemaah haji sehingga bisa dijadikan oleh-oleh, “ujarnya.

 

Ia menyayangkan, metode pengalengan makanan temuan anak buahnya belum banyak dimanfaatkan. Sambutan UKM masih minim dan pemerintah daerah belum melirik. "Baru Gudeg Bu Tjitro yang resmi memanfaatkannya dan mendapat izin edar dari BPOM," ujarnya.

Gudeg seberat 210 gram itu dibanderol Rp 27 ribu per kaleng. Isinya campuran gori nangka, telur, irisan daging ayam kampung, kacang polong, dan krecek (rajangan kulit sapi). Penyajiannya lebih sedap jika dipanaskan sebentar.

Soal rasa, memang sedikit berbeda dari gudeg kendil karena tanpa tempe. Resapan gurih telur dan daging ayam lebih terasa. Kuah santannya tinggal sedikit karena mengental mirip pasta. Rasa manis yang biasa disandang gudeg Yogya melemah terlalap rasa gurih.
 


 

Bagi Anda yang belum pernah makan gudeg

Cobain GUDEG KALENG BU TJITRO

"Dijamin Anda Pasti Puas"

Dapatkan Harga Diskon !!!

 

1 Gudeg kaleng 210 g Rp. 27.000,-

 

 

Pemesanan Melalui SMS :

081 380 727 717

atau Email ke

harmanto_e@yahoo.com

Format : Nama_Rincian Order_Alamat

 
 
 
GUDEG KALENG BU TJITRO 1925
Pilihan Bahasa
KUNJUNGAN KE WEB INI